MILIK PRIBUMI
Don't ask what your country can do for you, but ask what you can do for your country and it's not about the money.

Ismail Marzuki – Indonesia Pusaka

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap di puja-puja bangsa

Reff :
Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata

Sungguh indah tanah air beta
Tiada bandingnya di dunia
Karya indah Tuhan Maha Kuasa
Bagi bangsa yang memujanya

Reff :
Indonesia ibu pertiwi
Kau kupuja kau kukasihi
Tenagaku bahkan pun jiwaku
Kepadamu rela kuberi

- APB -

Analisis Perdagangan dan Perbankan Indonesia

Sistem perekonomian dunia sekarang dapat diibaratkan seperti sebuah rantai yang saling terhubung satu sama lain. Adanya krisis yang menimpa suatu negara, tentunya akan menimpa negara negara lain terutama yang melakukan kerjasama dan berhubungan dagang dengan negara tersebut. Hal ini pula yang menjadikan krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat tentunya akan menimpa negara-negara lain terutama negara-negara yang melakukan perjanjian kerjasama dan dagang dengan Amerika Serikat (USA) tak terkecuali Republik Indonesia (RI).

Krisis ekonomi di Amerika Serikat membuat sektor konsumsi di Amerika Serikat menurun sehingga akan mengurangi jumlah ekspor dan perdagangan yang dilakukan oleh RI ke USA. Adanya penurunan ekspor ini akan mengakibatkan segala penjaminan kredit seperti kredit ekspor, letter of credit (L/C), dan likuiditas ke sektor riil menjadi berkurang karena ada resiko meningkatkan Non Performing Loan (NPL) dan kurangnya likuiditas yang membahayakan cash flow di perbankan itu sendiri. Akibatnya, kredit akan seret dan otomatis akan mengurangi tingkat Pendapatan Domestik Bruto Indonesia (PDB) atau pertumbuhan ekonomi menurun.

Oleh karena itu, Bank Indonesia (BI) bekerja sama dengan Departemen Keuangan mengurangi dampak pengetatan likuiditas tersebut, dengan melonggarkan GWM (Giro Wajib Minum) bagi perbankan dan menyediakan dana repo perbankan.

Adanya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) No. 2 tahun 2008 tentang perubahan kedua atas UU No 03/2004 tentang Bank Indonesia memperluas jenis aset bank yang dapat dijadikan agunan untuk mendapatkan Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) dari Bank Indonesia. Aset kredit dengan kolektibilitas lancar dapat digunakan sebagai agunan bagi FPJP BI tersebut. Dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No 10/19/2008 tentang Giro Wajib Minimum Bank Umum, pihak BI melonggarkan likuiditas baik rupiah maupun valas. Dalam aturan GWM ini, BI menyatakan besaran GWM yang harus dipenuhi oleh setiap bank sebesar 7,5% dari total dana masyarakat di bank tersebut, yaitu GWM utama alias statutory reserve dan GWM sekunder atau secondary reserve. Besaran GWM utama adalah 5% dari nilai DPK mulai 24 Oktober 2008. GWM sekunder besarnya adalah 2,5% dari Dana Pihak Ketiga (DPK), dan untuk GWM sekunder bank dapat menyerahkan simpanan giro, Sertifikat Bank Indonesia (SBI) maupun Surat Utang Negara (SUN). GWM sekunder ini dimulai sejak tanggal 24 Oktober 2009.

Kebijakan yang dilakukan oleh BI ini akan melegakan bagi bank yang memiliki rasio penyaluran terhadap kredit yang tinggi dan berpotensi menambah likuiditas di pasar sebesar Rp 35 triliun.

Saat ini, satu-satunya sumber modal termurah yang menjadi andalan perbankan dalam mendapatkan dana adalah dana pihak ketiga. Karena itu DPK diusahakan jangan sampai berkurang. Dalam kondisi krisis keuangan saat ini, bank-bank lokal saling bersaing menaikkan tingkat suku bunga simpanan untuk menarik simpati masyarakat agar menaruh simpanannya di bank mereka. Ditambah dengan hampir semua negara melakukan berbagai kebijakan dengan menaikkan penjaminan simpanan nasabahnya untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat pada perbankan negara tersebut. Hal ini bisa menyebabkan nasabah lokal dapat melarikan simpanannya dari Indonesia ke negara yang menjamin seluruh simpanannya dan otomatis akan melarikan likuiditas dari Indonesia ke luar negeri.

Oleh karena itu, BI juga menilai besaran penjaminan dana nasabah perbankan harus diperbesar, guna memberi kepastian kepada nasabah di tengah situasi krisis keuangan sekarang ini sehingga masyarakat akan merasa bahwa dananya di bank ada jaminannya. Dengan keluarnya Perppu No. 3 tahun 2008. tentang perubahan atas Undang-undang No. 24 tentang Lembaga Penjamin Simpanan yang menetapkan penjaminan simpanan masyarakat, baik deposito maupun tabungan adalah maksimum Rp. 2.000.000.000.

Jumlah simpanan masyarakat yang dijamin oleh Perppu ini sekitar 99,92 persen dengan total rekening 81 juta namun secara jumlah hanya mencapai 61% dari total dana Rp 1.532 triliun yang ada di perbankan nasional. Sementara yang tidak dijamin sejumlah 0,8 persen nasabah bank yang memiliki tabungan di atas Rp 2 miliar dengan total rekening sekitar 60 ribu rekening mencapai Rp 600 triliun.

Adanya perbedaaan yang mencolok dalam segi jumlah dana yang disimpan ini dapat menjadi problematika tersendiri bagi perbankan dalam mengamankan dananya di dalam negeri agar tidak lari ke negara-negara yang telah menjamin seluruh simpanannya (blanket guarantee) seperti di Singapura, Malaysia, Australia dan beberapa negara lainnya. Oleh karena itu, maka bank-bank berlomba-lomba menaikkan bunga penjaminan bagi simpanan nasabahnya yang melebihi Rp. 2 milyar tersebut. Melihat perkembangan tersebut, untuk mengantisipasi larinya sejumlah dana Rp. 600 triliun dari orang kaya Indonesia ke luar negeri dan mengurangi resiko bagi perbankan lokal dalam memelihara dana Rp. 600 triliun tersebut, maka perlu dipertimbangkan untuk menaikkan jumlah simpanan yang dijamin oleh LPS ke dalam penjaminan penuh (blanket guarantee).

Penjaminan Simpanan Nasabah di Berbagai Negara *)


Indonesia : Rp. 2.000.000.000 / orang
Kanada : C$100,000 / bank / orang
Inggris : £50,000
USA :US$.100.000
Hongkong : ~/unlimited
Jerman : ~
Singapura : ~
Australia : ~
Malaysia : ~
Jepang : ~
Republik China : Belum ada

Keterangan :
*/orang = total tabungan perorangan di bank manapun dijamin maksimal sejumlah dana yang dijamin oleh pemerintah
Contoh : Om Rusli punya simpanan giro 1 milyar di BNI, tabungan 1 milyar di BTN, dan deposito 1 milyar di Bank Mandiri, jadi total ada 3 milyar simpanan si Om Rusli. Pemerintah hanya menjamin 2 milyar saja dari total 3 milyar tersebut (limit Rp. 2 milyar).

*/ bank / orang = bank menjamin total tabungan di bank mereka maksimal sejumlah dana yang dijamin pemerintah.
Contoh : William punya tabungan C$100,000 di Royal Bank of Canada, giro C$100,000 di Citizens Bank of Canada, dan C$100,000 di National Bank of Canada. Dan Pemerintah Canada menjamin seluruh simpanan Mr. William, karena pemerintah Canada menganut penjaminan tiap bank dan tiap orang (limit C$100,000).

*) Data berdasar tanggal 22 Oktober 2008

Analisis Krisis Ekonomi Indonesia

Ekspor Indonesia ke Amerika Serikat (AS) itu menduduki posisi terbesar kedua dalam neraca ekspor Indonesia sebesar 11.58 %. Ekspor Indonesia ke AS itu dipengaruhi oleh tekstil (25 persen) dan manufacturing (12.45 persen). Adanya krisis financial Amerika Serikat dapat berakibat macetnya sector TPT dan manufacturing Indonesia dan mengakibatkan potensi PHK dan efisiensi lainnya di dua sector tersebut.

Efek dari krisis finansial yang terjadi di Amerika Serikat juga dapat berfek ke perekonomian Indonesia melalui efek domino. Krisis financial Amerika serikat dapat berpengaruh ke beberapa Negara yaitu Negara Jepang dan Uni Eropa yang mempunyai dampak potensial berpengaruh terhadap penurunan ekspor Indonesia juga.

Ekspor Indonesia terbesar adalah ke regional Uni Eropa sebesar 13.92%, Negara Jepang sebesar 12,5%, Singapura 9,77% dan China sebesar 7,58% Terhitung ekspor Indonesia juga sebagian berbentuk barang mentah tanpa mengalami peningkatan kualitas produk sama sekali dalam bentuk komoditas mentah, maka penurunan harga komoditas dapat mengakibatkan penurunan kinerja ekspor Indonesia juga.

Strategi diversifikasi ekspor dapat bekerja jika sejalan dengan meningkatkan kompetensi sector industri yang sekarang juga. Difersifikasi yang paling menjanjikan adalah ke Timur Tengah dan Negara Asia timur jauh lainnya. Dan dengan kompetisi yang ketat dengan eksportir-eksportir dari China dan India, maka sangat perlu bantuan peningkatan kualitas kompetensi perusahaan eksportir Indonesia.

Peningkatan kompetensi dapat dilakukan dengan menaikkan standar produk dan kemudahan-kemudahan dalam melakukan ekspor dan kemudahan perusahaan dalam mendapat pinjaman lunak jangka pendek serta insentif pajak lainnya.

Hal sebaliknya dari apa yang Anda katakan karena SBI naik karena bank-bank berlomba-lomba menaikkan simpanan-simpanan depositonya. Itu jelas salah, karena dengan tidak dijaminnya penjaminan simpanan penuh nasabah (full blanket guarantee) makanya bank-bank berlomba-lomba menaikkan bunga deposito yang jumlahnya di atas Rp. 2 milyar. Untuk mempertahankan simpanan nasabah yang jumlahnya diatas Rp. 2 milyar tersebut maka bank harus menaikkan bunga deposito mereka yang mengakibatkan cost daripada bank sendiri semakin tinggi untuk membayar bunga. Dana Pihak Ketiga (DPK) dari masyarakat yang adalah dana murah bank dari nasabahnya (pengaman dalam likuiditas perbankan). Dengan tidak dijaminnya simpanan nasabah secara penuh, maka simpanan yang jumlahnya diatas Rp. 2 milyar tersebut bukan menjadi dana murah tetapi dana mahal bagi bank. Dan juga BI rate yang naik akan mempengaruhi secara mutlak naiknya bunga simpanan deposito masyarakat padahal simpanan deposito dapat dibilang DPK mahal bagi perbankan. Dan juga kenaikan BI rate berpengaruh walau sedikit terhadap penurunan investasi dalam PDB Indonesia.

Ditambah dengan potensi larinya dana Rp. 2 milyar dari bank itu sendiri, mengakibatkan tidak adanya penjaminan penuh simpanan nasabah menjadi boomerang tersendiri bagi perbankan. Kalau dipertahankan jadi dana mahal, tapi kalau tidak dinaikkan bunganya malah jadi kering likuiditas perbankannya.

Ditambah lagi dengan Kepala LPS sendiri menyatakan kepada pers mereka siap kalau pemerintah menunjuk menjamin 100% (seluruh) simpanan nasabah di Indonesia, namun tidak bisa karena tersangkut undang-undang.



Sumber :



Mekanisme Suku Bunga SBI sebagai Sasaran Kebijakan Moneter dan Variabel Makroekonomi Indonesia, BEMP Volume 11 No.1, Juli 2008. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Volume 11. No. 1, Juli 2008

Cara Pulihkan Ekonomi Indonesia?

Masalah krisis yg paling nyata sekarang ini adalah globalisasi perdagangan yang meluas. Tidak ada efek bagi perusahaan mau ekspor ke negara mana saja kalau semua negara juga resesi.

Tapi kalau ekspornya disebar akan ada cascading effect. Misalnya, kalau 1/8 eskpor adalah ke US, pas US macet, langsung totally macet. Lalu 3/8 ke Timur Tengah, pas timteng resesi ga berselang lama kemudian, ekspor jg macet. Setengah lagi ke Jepang-India-China, pas tiga2nya lambat laun menuju resesi, ekspor jg akan macet. Akhirnya ya macet semua tapi macetnya pelan2. Pertama US, terus Jepang, terus China, dll. Itu namanya cascading effect (efek air terjun yg mula2 dari sungai kecil, sungai besar, dan berujung pada air terjun yg curam dan gede).

Sebenarnya dalam teori perdagangan orang tidak berpikir soal diversifikasi, karena biasanya orang kan jual ke tempat yg untungnya paling gede. Misalnya Anda punya 10 produk, Amrik mau beli $100, Jepang $80, China $60. Apakah Anda akan diversifikasi produk jual ke amrik 5, jepang 3 china 2 ? Ya tidaklah, semua dijual ke amrik.

Lalu jepang dan china beli barangnya dari supplier lain. Dan akhirnya Amrik macet. Terus kalang kabut mau jual ke china dan jepang. Padahal mereka kan sudah ada supplier sendiri. Jadi tidak gampang juga untuk pindahkan market.

Jadi ujung2nya, globalisasi perdagangan atau ekspor sangat perlu diantisipasi oleh pemerintah agar sektor ini yang mendapat hantaman pertama kali, dapat dipulihkan segera sebelum krisis di bidang ini menjalar ke perusahaan2 di bawahnya.

Ditambah dengan akhir 2008 terjadi defisit neraca pembayaran Indonesia. Hal ini menandai telah banyak dana yang keluar dari Indonesia yang pastinya akan mengurangi kelancaran dana dan kebutuhan finansial serta perbankan dalam negeri. Karena ciri-ciri awal krisis finansial adalah defisit balance-of-payment (BOP) / neraca pembayaran dan defisit apbn.

Btw, apakah BI mau bersikap utk tetap menjamin likuiditas di pasar dan utk sektor riil walau resikonya jg semakin tinggi? Padahal pemerintah ingin tetap pertumbuhan ekonomi 6%, pengangguran terjaga, dan sektor riil yg butuh pembiayaan tetap dapat dilayani dengan baik ?

Memang sudah saatnya bisnis asuransi dipopulerkan oleh Bapepam-LK

Buat para pengusaha, coba diresearch sektor-sektor apa yang menjanjikan di Indonesia di tengah krisis ekonomi Indonesia dulu. Setahu gw yang menjanjikan di lokal Indonesia ada :
1. Sektor UMKM
2. Sektor food
3. Sektor consumer goods
4. Sektor medical


Sekedar Informasi :

1. Ekonomi Indonesia kuat, jauh lebih kuat daripada Singapore bahkan. Singapore sudah masuk resesi, 2 kuartal berturut2 -6%. Indonesia masih tumbuh 6%. Bila ada rumor yang mengatakan bahwa krisis kali ini disebabkan oleh pemerintah kita yang payah jangan percaya. Tim ekonomi kita sekarang ini tangguh. Cara mereka menanggulangi krisis sudah on track. BI mungkin membuat kebijakan yang mengejutkan tapi Menkeu tidak.

2. Hutang luar negeri kita sangat2 kecil saat ini dan cadangan devisa kita jauh lebih kuat daripada tahun 97/98. Dulu hutang luar negeri kita 100% dan cadangan devisa kita nol. Saat ini kita juga tidak ada hubungan lagi dengan IMF. Semua hutang kita itu independent.


Kunci ekonomi Kita lolos dari krisis yang waktunya bisa sampai 2-3 tahun terjadi di ekonomi kita sendiri

Cintai dan Belilah Produk Buatan Indonesia

Karena ekonomi kita ditunjang dengan banyaknya penduduk kita apalagi ditambah dengan ketegasan terhadap larangan impor ilegal yang sangat kuat, serta pengurangan impor dan penambahan jajaran produksi dalam negeri untuk barang modal maka Indonesia akan menjadi punggawa dalam mengatasi krisis sekarang.

Dolar AS Menguat

Dolar AS / US$ menguat bukanlah karena negara AS makin bagus karena makin hebat krisis yang terjadi di AS.

Sekarang itu di US, sedang terjadi deflasi, alias value of money US$ sedang naik.
Pemerintah US bahkan kesulitan cari US$ dalam bentuk utang untuk membantu masyarakatnya dalam menjalankan aktivitas ekonomi mereka.
US government bahkan terus menerus melakukan bailout utk menyuntik cash US$ yg langka ke dalam sistem ekonomi mereka.

Tetapi selama terjadi deflasi, skema bailout tidak akan berhasil sama sekali.

Inti permasalahan krisis di US seperti ini...

Dulu harga rumah 100 juta dolar.. Tetapi yg bisa beli sedikit kan? Karena tidak semua orang punya 100 juta dolar nganggur di rekening.
Jadi supaya orang bisa beli rumah, pemerintah kasih utang ..
Tapi apa yang terjadi jika harga rumah ada 100 juta dolar, tiba2 semua orang punya uang (dari hutang) untuk beli rumah?
Harganya akan naik terus kan?

Terus bangun rumah lebih banyak lagi, jadi 200,
Terus orang yg mengutang akan semakin bertambah banyak. Sampai pada suatu titik dimana satu orang bisa membeli 12 buah rumah.
Sampai orang pendapatannya cuma $20,000 bisa dikasih utang $500,000
Orang yang umurnya 90 tahun (!!!) dikasih KPR 40 tahun.

Lalu akhirnya orang-orang mulai bangkrut soalnya emangnya dari pertama tidak sanggup bayar utang. Akhirnya kebanyakan rumah yg bangkrut, kebanyakan rumah yang ada di pasarkan, akhirnya harga rumah turun
balik lagi ke 100 juta.

Proses "kembali lagi ke 100 juta" itu yg disebut deflasi
dan orang2 pada bangkrut. Karena orang2 pada bangkrut tersebut mereka ngga punya cash US$. Sehingga mereka menghemat/mengurangi pengeluaran. Efek cara mereka itu seperti ini...
Kalau orang menghemat makan siang, semua restoran berkurang pendapatannya. Pengeluaran konsumsi di Amreika turun karena tidak ada uang dan tidak ada juga kucuran kreditnya juga.
Bahkan sekarang credit card limit diturunkan. Padahal dulu dinaikin terus menerus.

Jadi kalau pengeluaran konsumsi turun, pendapatan perusahaan juga turun. Kalau pendapatan perushaan turun, akan banyak karyawan yang dipecat. Banyak yang dipecat sehingga pengeluaran konsumsi juga turun. Seperti lingkaran setan deh yang terjadi di US.

Karena krisis kredit juga, dan semua orang dan perusahaan butuh US$. Apalagi pemerintah US dan bank juga butuh US$, jadi harga US$ naik.

Sehingga US$ menguat krn US ga ada duitnya lagi shg US$ langka, dan US juga banyak utangnya, shg terjadi deflasi di US.

Dan akibatnya menimpa banyak negara yg mata uangnya melemah terhadap US yang kebetulan juga rupanya mata uang perdagangan internasional.

Permasalahan Ekonomi Moneter

Permasalahan ekonomi moneter saat ini adalah :

1. Masalah slow PDB / pertumbuhan ekonomi melambat krn US$ menguat terus (akibat deflasi di US), harga2 komoditas spt oil, CPO, rice, corn, dll turun shg kinerja ekspor turun, pengangguran bisa bertambah, dan akan terjadi krisis lumayan serius di Indonesia. (Buat yg sekarang kerja malas2an apalagi gajinya tinggi, harus lumayan serius kerjanya krn bisa2 dipercat krn dianggap kurang berharga )

2. Bagaimana mengamankan uang2 masyarakat yang ada di bank2 di Indonesia agar masyarakat tidak menarik uangnya dari bank yang akan mengakibatkan ekses negatif ke sektor moneter Indonesia.
Bank Indonesia melihat bahwa kondisi inflasi inti yang saat ini sedang naik akan mengakibatkan return terhadap tabungan akan berkurang sehingga utk mencegah masyarakat merasa uang mereka di bank tidak aman, dan lebih baik disimpan dgn cash di bawah kasur, maka BI menaikkan SBI nya. Sehingga masyarakat jg merasa aman utk menyimpan uang di Bank. Tetapi akibatnya masyarakat jg semakin malas utk berinvestasi krn biaya investasi akan semakin mahal karena bungan pinjaman juga otomatis naik karena SBI naik.

Tetapi menurut gw utk solusi bagi masalah ini adalah penjaminan simpanan nasabah melalui LPS bisa ditingkatkan lagi, sehingga masyarakat benar2 merasa aman utk menyimpan tabungannya di perbankan Indonesia.

3. Masalah US$ semakin tinggi.
Hal ini sangat berakibat lumayan penting bagi sektor pembayaran utang luar negeri Indonesia dlm bentuk US$. Jika US$ naik padahal pemerintah kekurangan devisa dalam bentuk US$ sehingga harus sangat bayar banyak utk membeli lg US$, bisa2 negara Indo bisa bangkrut lagi. Sehingga BI menaikkan SBI...


Tetapi masih sangat keliru jika SBI tetap dinaikkan dan tidak diturunkan.
Sektor bisnis dan ekonomi bisa hancur kalau begitu.

Perdagangan saham dan sektor riil juga bisa bangkrut karena kesulitan mencari kredit yg murah dan prospek investasi semakin tipis di tengah2 demand yg slowing ini. Sektor ekspor komoditas juga bisa mundur. Dan ujung2nya akan terjadi resesi alias PDB turun, dan ada kebangkrutan, PHK, dll. Karena tren yg ada sekarang adalah pertumbuhan ekonomi turun, shg akan sangat lebih baik jika bunga SBI diturunkan shg bisa memicu perbaikan ekonomi yang lebih cepat.

NB : SBI = suku bunga Bank Indonesia, PDB = pendapatan domestik bruto, LPS = lembaga penjamin simpanan

Cara pulihkan ekonomi global?

Cara yang dipakai oleh para bank2 sentral memotong interest rate.

Walau untuk sementara pergerakan bursa sama sekali tidak ada terpengaruh oleh adanya keputusan bersama tersebut, tetapi untuk jangka panjang menurut gw akan menimbulkan antusiasme di sektor riil. Yah, walay harus menunggu paling lambat 6 bulan sampai satu tahun untuk melihat efeknya langsung.

Sebenarnya menurut gw krisis ekonomi global sekarang ini belum habis, Untuk setidaknya krisis di US kira2 akan sampai 2010. Dan negara2 selain US akan sampai 2012. Yah, walau inti krisis sudah diketahui gimana bentuknya tetapi masih perlu waktu yg lumayan lama untuk memulihkan keadaan totalnya.

US government telah melancarkan bailout dgn duit pinjeman dari rakyat sendiri senilai US$ 700 bilion (miliar dalam rupiah) dlm bentuk bailout murni dan $900 bilion (miliar dalam rupiah) dalam bentuk pinjaman ke bank (suntikan likuiditas) sehingga ada perputaran duit. Lalu US Government juga meluncurkan stimulus ekonomi sejumlah $ 787 billion untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi agar terlepas dari deflasi dan resesi ekonomi amerika serikat.


Tetapi pada dasarnya US bailout sama sekali belum mampu menunjukkan optimisme di kalangan investor dan usahawan US, yang ujung2nya akan merambat ke ekonomi global.

Mengapa US bailout gagal ?

Dapat dibuat sebuah contoh..

Andaikan anda (investor) punya saudara (pemerintah) yang mempunyai 20 orang anak (bank and financial institution). Terus mereka adalah keponakan Anda semua.

Terus ponakan yang sulung minjam duit sama Anda, terus tidak dilunasin. Yang nomor 2 minjam duit, terus ga dibalikkan juga. Terus nomor 5 minjam duit dan ga dibalikkan lagi. Habis itu Anda kesel dan ketika yang nomor 7 minjam duit, Anda tidak memberinya. Terus bokapnya atau saudara Anda bilang dia pinjamin duit ke Anda supaya Anda bisa kasih pinjam ke nomor 7.
Anda mau tetap kasih pinjam duit ga ?

Nah, itu yang saat ini terjadi di US. Terlalu banyak asset yg jelek, hutang/obligasi yang jelek di dalam pasar.TIdak ada yang bisa dipercaya, akhirnya tidak ada investor yang mau nanamin modalnya.

Jadi kebanyakan investor institusi (investor milliaran dolar sekali nanamin modal) memilih untuk menunggu biarkan asset dan hutang yang jelek2 mati dulu, baru yang sisanya tertinggal ditanamkan modalnya.

Jadi ibaratnya, Anda harus tunggu sebagian besar dari 20 anak tersebut dirazia dan dihukum papanya.

Ini kan krisis ekonomi gloabal dari harga rumah di amrik dan orang2 yang tidak sanggup lunasi cicilan.

Sehingga sampai semua orang yang tidak sanggup bayar cicilan sudah habis diambil alih assetnya dan dilunasi dgn cara dijual kembali atau dilelang (foreclosure). Dan sampau harga rumah tidak menjadi turun lagi, dan diharapkan harga rumah bahkan naik. Saat itu baru kita bisa melihat ada tanda2 ekonomi membaik. Dan untuk beberapa negara imbasnya itu baru kerasa 1-2 tahun kemudian kira2.

Untuk bailout US government sekarang. Kenapa bisa gagal ?

Saat US mengalami great depression dulu, akhirnya pemerintah maksain pengeluarannya sendiri, jor-joran keluarin, menetapkan gaji minimum yang tinggi, menetapkan harga barang2 tidak boleh turun dgn peraturan & undang2, membuat banyak proyek pemerintah.

Dan pemerintah US yang sekarang terlilit hutang banyak, jadi tidak bisa berbuat banyak juga.

Sehingga ketika masa great depresion dulu, seperti satu kapal tenggelam ada 100 orang. Kapten kapal cuma bisa 60 orang dgn sekoci, dan 40 orang sisanya ditelantarkan. Sekarang ini mau tolong 100 orang, tetapi kapasitas sekoci kapalnya cuma 10 orang. Yah, intinya bailout $700 bilion plus pinjaman jangka pendek $900 bilion tidak akan bisa menyelesaikan semuanya. Itu jumlah yang sangat kurang.

Karena kalau mau benar2 bailout, seharusnya US$ 10 billion dan caranya sistematik, mulai menaikkan gaji, menebus homeowner (good foreclosure), menebus kredit jelek, dan membuka keran kredit.

Tetapi itu artinya inflasi bakalan besar banget, dan hutang negara jadi menjadi menumpuk juga.

Seperti yang nantinya terjadi akan seperti Indonesia zaman 97-98. Gaji naik, bank2 dinasionalisasi dan ditelan sama pemerintah. Kredit jelek ditekan. Tetapi inflasi sangat tinggi. Gaji naik nominalnya, tetapi dengan gaji yang naik cuma bisa belanja barang yang lebih sedikit.

Seebaliknya kalau dibiarkan tidak bailout, akan ada akuisisi demi akuisisi. Ekonomi akan resesi berkepanjangan, tetapi untuk jangka panjang akan lebih murah utk pengeluaran pemerintah.

Yah, begitulah. Serba tanggung krn duit ga ada utk atasinnya. Kalau dilakukan jg bakal inflasi, dan kl tidak dilakukan jg bakal reses (deflasi).

Perekonomian Republik Indonesia 2009-2014

Republik Indonesia saat ini sedang berada di dalam masa krisis ekonomi yang sangat langka. Namun walau sedang terkena krisis, ekonomi negara kita diprediksi akan tetap bertumbuh positif dengan tingkat pertumbuhan ekonomi 4 – 4,5 % selama tahun 2009 ini.


Struktur ekonomi Indonesia dapat dilihat di tabel berikut :


No


Sektor


(%
GDP)


1


Agriculture


12,99%


2


Mining
and quarrying


8,85%


3


Manufacturing
In dustry


27,32%


4


Electricity,
gas, and clean water


0,86%


5


Construction


9,09%


6


Trade,
hotels and restaurants


14,19%


7


Transportation
and communications


6,58%


8


Finance,
leasing, and business services


7,75%


9


Other
services


9,96%




No


Akun


Tingkat


1


Tingkat
Pengangguran


9,1%


2


Neraca
Pembayaran


1793
juta USD


3


Neraca
Perdagangan


6226
juta USD


4


Defisit
APBN


2,5%


5


BI
Rate


6,75%


6


USD -
Rupiah


10160



Data berdasar Kuartal I 2009 kecuali BI Rate dan USD-Rupiah berdasarkan saat ini tanggal 15
Juli 2009


Dapat dilihat di atas bahwa di dalam struktur APB sektor industi manufaktur menempati posisi

pertama, diiukti oleh perdagangan, hotel dan restauran (pariwisata), serta pertanian. Ketiga hal ini dapat menjadi peluang emas bagi pengembangan ekonomi Indonesia ke depannya. Idealnya perekonomian Indonesia haruslah berdasarkan pada keberpihakan terhadap kapitalisme lokal atau kepada industri dan produk dalam negeri yang tidak hanya berkualitas tetapi juga terjangkau harganya di dalam negeri dan luar negeri. Saat ini sedang marak kampanye penggunaan produk dalam negeri baik dalam segi pemfokusan pembiayaan kredit bagi usaha rakyat (Koperasi dan UMKM), ajakan mengkonsumsi produk dalam negeri, penggelaran visit indonesia 2009 sebagai unjuk gigi pariwisata lokal di Indonesia dan luar negeri, dll.


Penguatan kapitalisme lokal yang berorientasi pada keberpihakan industri dan produk dalam

negeri ini jelas bukanlah untuk pelarangan masuknya investasi asing di Indonesia. Justru sebaliknya, dengan semakin giatnya Indonesia memperkuat posisi kapitalisme lokalnya melalui industri dan produk dalam negeri maka nantinya akan banyak perusahaan-perusahaan Indonesia yang maju dan mendaftarkan perusahaannya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Nantinya diharapkan akan banyak perusahaan lokal yang berprestasi dan mempunyai catatan keuangan yang bagus sebagai daya tarik untuk mendatangkan investor menanamkan modalnya baik dalam bentuk saham maupun obligasi di dalam perusahaan-perusahaan dalam negeri tersebut. Sehingga nantinya BEI akan terdiri dari mayoritas perusahaan lokal yang kuat di dalam negeri dan juga mempunyai jangkauan pasar di luar negeri yang cukup bagus. Selain itu dapat juga dicontohkan seperti di Inggris, dimana nantinya diharapkan ada Bursa Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di BEI . Bursa UKM ini terdiri dari perusahaan-perusahaan UKM Indonesia yang baik dalam segi manajemen dan mempunyai catatan keuangan yang bagus untuk dapat ikut mencatatkan perusahaannya di BEI guna menarik investasi dan memperoleh kepercayaan publik.


Selain itu banyak penduduk Indonesia yang bermata pencaharian sebagai petani, nelayan, dan perkebunan. Sektor ini adalah sektor alamiah yang menghasilkan barang-barang kebutuhan konsumsi seperti biji-bijian, sayur-sayuran, ikan, daging, dan buah-buahan. Dapat kita lihat di dalam struktur inflasi mayoritas berasal dari barang konsumsi kebutuhan pokok yang dihasilkan oleh petani, nelayan, dan perkebunan. Adapun saat ini Indonesia sangat banyak mengimpor biji-bijian, daging, susu, dan aneka kebutuhan pokok lainnya sedangkan impor itu adalah tergantung dari harga pasar internasional dimana harga komoditas biasanya mengikuti perkembangan harga minyak dunia. Pergerakan harga minyak dunia yang sangat tidak stabil dengan volatilitas tinggi dan cenderung akan naik harganya di masa mendatang karena mengantisipasi cadangan minyak yang semakin menipis dari tahun ke tahun akan sangat berbahaya bagi harga komoditas pangan yang mengikutinya di pasar internasional. Oleh karena itu pendukungan dan keberpihakan koordinasi pembangunan ekonomi Indonesia ke arah pembangunan pertanian, perikanan, dan perkebunan akan sangat dibutuhkan sekali.


Hal ini selain guna mensejahterahkan banyak rakyat Indonesia yang bermata pencaharian di bidang-bidang tersebut yang tentunya akan mengurangi drastis angka pengangguran tetapi juga sangat berguna untuk menstabilkan dan menyehatkan ekonomi Indonesia baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang yaitu meredam inflasi. Inflasi selain berdampak negatif terhadap pertumbuhan dan kesehatan ekonomi tetapi juga memiliki dampak negatif terhadap kestabilan sosial ekonomi masyarakat Indonesia. Harga kebutuhan pokok yang tinggi adalah tema politik yang sangat laris dari masa ke masa di Indonesia, sehingga dapat dipastikan dengan kestabilan sosial ekonomi yang tinggi dimana sektor pertanian, kelautan dan perkebunan Indonesia diprioritaskan akan sangat berguna selain bagi pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan banyak penduduk (mengurangi pengangguran), juga bermanfaat terhadap kestabilan sosial ekonomi kebutuhan masyarakat luas baik di perkotaan maupun pedesaan.


Selain itu sektor pariwisata adalah sangat strategis terhadap pembangunan ekonomi Indonesia. Dapat dilihat di dalam tabel struktur ekonomi Indonesia dalam PDB bahwa sektor perdagangan, perhotelan dan restoran menempati posisi ketiga dimana pariwisata identik dengan perhotelan dan restoran selain juga bagi sektor transportasi. Sektor pariwisata juga dapat menjadi unjuk gigi Indonesia di dalam negeri dan luar negeri terhadap keindahan kekayaan Indonesia yang dijuluki zamrud khatulistiwa ini. Oleh sebab itu sektor pariwisata juga harus tetap diutamakan dan kesadaran kebersihan lingkungan wisata harus dipelihara selain juga perlindunga n terhadap kultur budaya masyarakat setempat yang dijaga agar tetap menarik dan ramah terhadap orang-orang.


Oleh karena itu pembangunan ekonomi 2009-2014 harus memprioritaskan sektor industri manufaktur dalam negeri, sektor pertanian, perkebunan dan kelautan Indonesia, serta sektor pariwisata Indonesia harus diprioritaskan pembangunannya ke depannya. Prioritas dapat dengan cara keberpihakan terhadap industri, usaha, dan produk dalam negeri tentunya, dengan pembangunan infrastruktur yang kokoh untuk menunjang aliran ekonomi dan pariwisata, kemudahan dalam memperoleh akses listrik, air bersih, dan enerji (BBM dan gas), dan yang juga sangat penting kemudahan dalam memperoleh modal dan pembiayaan dari sektor finansial yang pastinya otomatis berkembang kalau sektor yang dibiayai dan dimodalinya ini juga berkembang.


Best Regard,

Ardianto P. Butarbutar

+6281361014145

http://antoderman.blogspot.com

http://www.koperasisubur.com

Blogger templates made by AllBlogTools.com