MILIK PRIBUMI
Don't ask what your country can do for you, but ask what you can do for your country and it's not about the money.

Ismail Marzuki – Indonesia Pusaka

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap di puja-puja bangsa

Reff :
Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata

Sungguh indah tanah air beta
Tiada bandingnya di dunia
Karya indah Tuhan Maha Kuasa
Bagi bangsa yang memujanya

Reff :
Indonesia ibu pertiwi
Kau kupuja kau kukasihi
Tenagaku bahkan pun jiwaku
Kepadamu rela kuberi

- APB -

Krisis Ekonomi dan Ketidakstabilan Sosial Masyarakat

Krisis ekonomi sangat erat kaitannya dengan ketidakstabilan kehidupan sosial masyarakat. Karena krisis ekonomi akan mengakibatkan jumlah penduduk miskin bertambah sehingga gap antara penduduk kaya dan penduduk miskinbertambah. Sehingga untuk mengantisipasi hal tersebut kita harus bergantung kepada rasio penduduk daerah terkaya dan termiskin di dalam suatu negara, rasio penduduk negara terkaya dan negara termiskin, indeks gini di dalam suatu negara, dan rasio lainnya.

Untuk melihat kestabilan suatu negara kita juga harus memakai tingkat pemerataan pendapatan nasional terhadap sejumlah daerah dan golongan tertentu di dalam negara tersebut.

Penyebab Sumpah Pemuda tahun 1928 adalah data sebagai berikut :
51,1 juta penduduk pribumi yaitu kita bangsa Indonesia (97,4% penduduk) hanya menerima 0,54% dari pendapatan “nasional” Hindia Belanda. Sedangkan penduduk Asia lain yang berjumlah 1,3 juta (2,2%) menerima 0,06% dan bahkan 241.000 (0,04%) orang Eropa (kebanyakan Belanda) menerima 99,4% dari keseluruhan Pendapatan "Nasional" Hindia Belanda

Kesadaran ketidak adilan sosial di dalam Hindia Belanda era 1920-an akhir tersebut menimbulkan perjuangan nasionalisme dan senasib serta solidaritas yang sangat tinggi di kalangan warga pribumi kita untuk memperjuangkan nasibnya melalui perang dan berbagai cara diplomasi untuk mencapai taraf keadilan serta kemerataan ekonomi yang lebih baik.

Maka untuk mengantisipasi perang di dalam suatu negara yang bisa memicu perang antar negara, kita harus mengantisipasi agar rasio pendapatan daerah terkaya dan daerah termiskin di dalam suatu negara di bawah 8 - 8,5 serta rasio/indeks Gini di bawah 0,20 - 0,22. Terutama bagi negara Republik Rakyat Tiongkok, Korea Utara, Negara2 di Eropa Timur, Republik Indonesia, negara-negara di Asia Kecil, dan negara2 berkembang dan dunia ketiga lainnya

Ekonomi Indonesia 2009 - 2010

Kesalahan yang cukup beresiko bagi pemerintah Indonesia saat ini adalah kita terlalu haus akan hutang dan bantuan pinjaman lainnya.

Saya pikir Ibu Sri Mulyani dan Pak Boediono seharusnya jangan berpikir kalau satu-satunya pemulihan ekonomi Indonesia ditentukan dari menunggu modal luar negeri datang dengan deras ke Indonesia. Harapan seperti itu jelas tidak pada tempatnya dan ngawur.

Sebaiknya dengan adany krisis ini, kita jangan terlalu terpancing untuk lebih banyak berhutang baik tahun 2009 maupun tahun 2010. Tetapi seharusnya sangat penting kalau kita memfokuskan diri pada seberapa efektifkah penyerapan anggaran oleh segenap instansi daerah dan instansi nasional yang terkait. Seberapa efektifkah fungsi pengendalian (akuntansi) dan fungsi fiskal (kebijakan budjeter) dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat bagi pembangunan Indonesia?

Adalah sangat teramat penting kita sebaiknya memperbaiki, menyempurnakan, dan meningkatkan daya serap dan efektivitas sistem perekonomian Indonesia kita lebih dahulu daripada menambah hutang dan pinjaman yang belum tentu penyerapannya dan alokasinya diletakkan pada tempatnya dengan sangat efektif dan efisien.

Tambahan lagi, dengan adanya krisis ekonomi global ini sebenarnya yang tertimpa dengan keras adalah ekonomi perkotaan dan sektor ekonomi korporasi. Sedangkan sektor ekonomi pedesaan dan sektor ekonomi yang tidak mengenal kata formal atau tidak terikat pada global sama sekali masih adem ayem. Dan malahan golongan ekonomi ini malah dijadikan bantal penyerap terhadap pertumbuhan ekonomi (meningkatnya PDB) Indonesia. Yaitu melalui kampanye meningkatkan konsumsi domestik yang sebenarnya 95% persen tenaga kerja domestik malah berfokus di sektor non-korporat (informal) dan dari pertumbuhan ekonomi di sektor non-korporat (domestik).

Sudah saatnya kita lebih memfokuskan diri pada mengembangan kegiatan ekonomi rakyat banyak Indonesia yang tidak tertimpa krisis ekonomi global ini yaitu ekonomi pedesaan dan ekonomi informal. Saya sangat yakin BRI dan Pegadaian akan menjadi perusahaan yang bertumbuh pesat selama kurun waktu 2009-2010

Cara Pemulihan Ekonomi AS

Pemerintah Amerika Serikat harus berjuang keras meningkatkan kepercaayaan kepada penanaman modal dan investasi di Amerika Serikat sendiri

Hal itu bisa dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :

1. Menentang ketetapan Ikatan Akuntansi Amerika Serikat yang melonggarkan aturan Mark to Market yang dengan serius dapat memicu ketidakpercayaan investasi dalam negeri. (Ini yg membuat Jepang belum pulih sampai sekarang, dan walaupun jelas telah terbukti tidak menolong ekonomi Jepang, AS malah meniru langkah keliru ini, buruk sekali)

2. Melikuidasi asset-asset bermasalah (toxic assets) secara tegas untuk kerampingan dan kesehatan ekonomi Amerika Serikat. Dan meregulasi terhadap fondasi / underlying dari semua asset-asset yang beresiko tinggi agar tidak terbangun secara rapuh seperti subprime mortgage.

3. Meningkatkan tingkat kepercayaan industri lokal Amerika Serikat baik dari industri besar seperti IBM, dll agar mau tetap mendirikan investasinya di AS sendiri dan mendorong masyarakat AS agar menanamkan modalnya untuk berusaha (SMEs) untuk menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat AS sendiri dan mengembalikan investasi yang keluar dari AS.

4. Meningkatkan tingkat kepercayaan masyarakat Luar Negeri yang ingin berinvestasi di Amerika Serikat, baik itu investasi di Industri Riil, Pasar Obligasi, Pasar Modal, dan pasar lainnya.

Amerika Serikat HARUS BISA menjadi negara yang layak dipercaya oleh warga negaranya sendiri dan warga negara asing agasr penanaman modal dapat kembali pulih untuk dapat mencegah pengangguran berlebih serta meningkatkan kembali pertumbuhan ekonomi AS selama 2-3 tahun ke depan.

Kritik untuk Tindakan Ekonomi Obama

Pengangguran di Amerika Serikat saat ini jumlahnya terus bertambah dan pertambahannya juga semakin cepat.

Melihat konferensi G-20 di London, Inggris yang dikelilingi oleh unjuk rasa pengangguran. Saya rasa, mungkin baru sampai unjuk rasa di Amerika Serikat baru pemerintah Amerika Serikat mulai serius.

Untuk sebuah pemerintahan yang katanya "populis", sejauh ini mereka belum melakukan sesuatu yg riil di negaranya sendiri. Apalagi Pak Obama platformnya "CHANGE"

Kalau melihat dulu Pak Obama mengatakan akan menindak para pelaku-pelaku yang membuat ekonomi seperti ini.

Sekarang ada dimana janji kampanye itu?

Belum lagi defisit anggarannya yang parah, dan akan dengan rencana spent dan spent nya secara rumus akan menambah defisitnya bertambah menjadi 10-14 triliun dalam jangka waktu 10 tahun.

Seberapa besar defisit Bush?

Obama made Bush look smart

Kekecewaan Peniadaan Akuntansi Mark to Market AS

Ditengah-tengah kampanye regulasi ekonomi global, Amerika Serikat dengan Ikatan Akuntansinya meregulasi aturan pelaporan laporan keuangan agar tidak mark to market atau tidak berpaku kepada kondisi (harga) pasar riil. (Baca : http://www.reuters.com/article/businessNews/idUSN0235590020090402?feedType=RSS&feedName=businessNews&sp=true)

Jujur, saya sangat kecewa dengan kebijakan Ikatan Akuntan Amerika berikut...Jadi kalau diibaratkan ada sebuah rumah di Amerika Serikat yang harganya sebelum krisis USD 300.000. Dan kini harganya itu USD 100.000

Maka karena peraturan itu sekarang bank bisa berargumen kalau misalnya sebuah rumah itu harga "mark to market"nya itu tetap $300,000. Dan auditor kalo baca itu harus setuju.

Argumentnya harga 300,000 itu harga normal dan harga 100,000 itu harga "tertekan", harga yg abnormal. Pada intinya ini adalah merubah peraturan supaya bank2 bisa nipu investor-investor yang menanamkan duit di bank-bank amerika serikat.

Skrg ini waktu asset bubble burst, paling tidak kita masih dilindungi oleh ketentuan dan peraturan akuntansi serta auditor-auditor yang handal. Istilahnya sampah yah dihargai sampah, racun ya dihargai racun. Hitam itu hitam, dan putih itu putih.

Sekarang aturannya diubah, sampah boleh dihargain berlian, racun boleh dihargain obat. Jadi kalo dulu bank banyak pegang sampah dan nelan racun akibatnya bank-bank tersebut akan bangkrut.

Tetapi sekarang perbankan bisa banyak pegang sampah dan nelan racun, tetapi karena dihargain berlian dan obat, maka perbankan keliatannya sehat,padahal udah sekarat.

Efeknya ini nanti kalo misalnya ada bubble lagi. Asset perbankan ikut nambah jelas. Tapi kalo bubblenya pecah dan harga-harga asset turun maka asset bank tidak ikut berkurang. Jadi bank "keliatannya" lebih sehat. Itu efek jangka panjangnya. Untuk efek jangka pendeknya, skrg bank bisa merubah accounting mereka dan bikin memodifikasi asset mereka sendiri ngegelembung naik. Jadi "keliatannya" mereka lebih sehat.

Jadi personifikasinya seperti gini. Ada orang yang tadinya miskin, terus jadi kaya mendadak.Eh, abis itu orang itu miskin mendadak lagi. Setelah itu pemerintah bilang, walaupun kamu miskin mendadak, kamu harus tetap pakai baju seperti waktu kamu kaya. Jadi walaupun kamu miskin, baju kamu terlihat keren-keren. Jadi orang tetap melihat, wow dia kaya ya... Padahal udah miskin mendadak.

Lebih jeleknya lagi. Walaupun orang2 ngeliatnya kamu kaya. Tapi sebenarnya dalemnya kamu tetep miskin. Cuma pakai baju seperti waktu kamu kaya.

Sama halnya walaupun perbankan sudah miskin karena pegang asset sampah dan racun semua, dari luar bank tetap kelihatan kaya.

Jadi Amerika Serikat akan memiliki perbankan yg keliatannya sehat-sehat saja walaupun ekonominya ambruk. Sebenernya perbankannya pelan2 udah ambruk, tapi masih bisa ditutup2in.

Kalau ditinjau dari alasan untuk memperkuat pinjaman, ini juga tidak beralasan. Perbankan hanya boleh meminjamkan apa yang mereka miliki. Kalau asset mereka gede tetapi kas mereka miskin, pinjaman juga tetap macet.

Apalagi kalau ternyata sampah dan racun yang dihargai diamond dan obat itu dibeli oleh pemerintah AS dan The Fed full price atau pada harga yang tetap untuk memberi kas lebih pada perbankan.

Akan benar2 kelihatan rupa aslinya asset perbankan itu. Kosong melompong dan keropos dan menghabiskan uang pajak rakyat membeli asset spt itu. Itu namanya penipuan publik warga Amerika Serikat.

Sepertinya Pemerintah AS berpikir, kalau tidak bisa menghentikan krisisnya. Setidaknya kita bisa membuat krisisnya "tidak kelihatan / invisible crisis".

Padahal sebagaimana yang kita ketahui bersama

BAHWA INDUSTRI PERBANKAN ADALAH INDUSTRI YANG BERASASKAN KEPERCAYAAN

Ekonomi Global 2009-2010

Saya melihat kondisi perekonomian akan mengalami titik terendahnya bulan Juli-Agustus 2009 yang akan datang.

Di mana akan perbankan bermasalah, perusahaan otomotif, perusahaan-perusahaan yg tidak dikelola dengan baik, dan perusahaan2 ekspor yang telah semuanya memilih untuk bangkrut untuk kesehatan dan kerampingan ekonomi dari beban dan inovasi yang lebih baik lagi.

Setelah itu selama masa September-Desember 2009, ekonomi Global akan mengalami stagflasi. Untuk perkembangan ekonomi 2010, sangat ditentukan oleh kebijakan Amerika Serikat yang dikenal dalam stimulus ekonomiya boros dan tidak ekonomis apakah tetap mengeluarkan supply uang M2 ke pasar secara berlebihan.

Atau dapat netral dan tenang dalam menyikapi pasar , dengan membiarkan sejumlah asset yang tidak baik dan menjadi pukulan bagi ekonomi rontok sendiri, membiarkan sejumlah perusahaan yang tidak dikelola dengan baik rontok sendiri, dan membiarkan sejumlas asset2 yg tidak layak hilang sendiri di pasar. Agar ekonomi yg jelek mendapatkan sangsi dan efek jera yang sepadan dan sangat tegas agar tidak mengulangi hal yg serupa selama 30 tahun ke depannya.

Lalu memberlakukan regulasi yg sangat ketat dalam industri jasa keuangan, memberlakukan pengawasan lebih ketat akan M2 atau likuiditas yang sangat membebani pasar keuangan agar diatur dengan lebih disiplin, dan menyokong supply money untuk menggerakkan PDB dan bukannya M2 secara keseluruhan dan tidak berpusat di industri jasa keuangan saja tetapi harus terutama mencakup sektor2 riil dan sektor2 utama masyarakat spt pendidikan, kesehatan, infrastruktur riil, dan infrastruktur digital.

Jangan sampai Amerika Serikat akan memaksakan diri memacu lebih cepat tanpa arah dan landasan sehingga akan dengan mudah jatuh lagi dan lagi selama 10 tahun ke depan. Dan sebaiknya harus bersikap hati2 dan teregulasi selama 4 tahun ini untuk kebaikan ekonomi 30 tahun ke depan?

Secara kesalahan ekonomi terbesar selama 80 tahun ini haruslah disikapi dengan sangat fokus dan tegas dan tidak main2 sambil melakukan hal2 lain yg tidak perlu, agar kiranya selama puluhan tahun ke depan anak cucu kita tidak akan mendapatkan hal yg bisa lebih buruk lagi nantinya.

Regulasi Keuangan Amerika Serikat

Perbankan AS yg sekarang isinya adalah cowboy jadi-jadian dan adrenaline maniaks akan dikembalikan lagi menjadi lembaga yg konservatif yg isinya boring, predictable dan stiff.

Amerika Serikat membuat proposal untuk regulasi keuangan AS. (Read : http://www.reuters.com/article/newsOne/idUSTRE52P0J020090326?pageNumber=2&virtualBrandChannel=10112)

Dalam proposal yg belum tahu isinya ini nantinya Hedge Fund wajib mendaftar ke SEC (sejenis Bapepam), akan ada Lembaga Pengawas Resiko, pewajiban modal yang kuat bagi institusi kapasitas besar, dan akan ada pemisahan bank konvensional dan asuransi seperti Glass-Steagel act (undang2 yg menjadi pemulih krisis 1930 dan dideregulasi pada 1990-an akhir yg menjadi penyebab utama krisis sekarang).

Peraturan ini sangat bagus dari sisi konsep. Tapi kita belum melihat isi proposalnya lengkapnya bagaimana. Dan saya sangat ragu, maukah Hedge Fund menyerahkan dirinya dan mengantarkan upeti dari segala hartanya yg tersembunyi di penjuru dunia (yg tentunya membutuhkan akuntansi asset internasional yg baru) untuk diatur dalam SEC?


Stimulus Ekonomi AS dan Pajak Rendah hanya 2 tahun

Saya melihat strategi Obama untuk menangani krisis ini dengan pemotongan pajak dan stimulus yang bertriliun USD ini hanya selama dua tahun saja.

Dan dalam sisa tahunnya setelah terjadi inflasi dan defisit anggaran yang sangat banyak itu, maka langkah satu-satunya Amerika dapat mempertahankan dan memperkecil defisit anggarannya adalah dengan menaikkan tingkat pajak sedemikian rupa.

Dan saya mengestimasi Amerika Serikat nanti akan seperti Eropa dengan tingkat produktifitas yang tinggi diimbangi dengan tingkat pajak yg tinggi juga.

Detik-detik menjelang pertemuan G-20 di London

Bila kita melihat posisi keuangan Amerika Serikat sekarang, maka kita akan melihat Pemerintah AS berada pada posisi yg sangat terpojok pada 2 tahun ke depan.

The Fed berencana akan membeli surat hutang pemerintah AS (T-Bond) sebanyak 350 milyar USD, membeli mortgage yg bermasalah sebanyak 1,25 triliun USD, dan membeli surat hutang (bond) institusi keuangan lainnya yg juga bermasalah sebanyak 100 milyar USD. Dan pemerintah AS akan membeli asset2 beracun (toxic asset) di pasar intrumen keuangan sebesar 1 trilyun USD.

Dan bila kita menilik rencana kedua regulator keuangan terbesar AS (dan dunia) itu dibanding dengan defisit anggaran (APBN) pemerintah AS yang sejumlah - 1,845 triliun USD . Maka hal ini dapat memojokkan pemerintah AS sendiri.

Sebagaimana kita mengetahui tingkat suku bunga AS (The Fed Fund Rate) adalah di anta 0 - 0,25%. Ditambah dengan injeksi triliunan USD ke pasar ditambah dengan rencana pemerintah AS mengucurkan triliunan USD ke pasar akan mengakibatkan jumlah USD di pasar akan terlalu banyak.

Dengan tingkat bunga yan sangat rendah dan defisit yang sangat tinggi akan mengakibatkan AS akan mencetak triliunan USD ke pasar yang akan membuat USD semakin kurang berharga. Dan hal ini akan mengakibatkan inflasi yg cukup tinggi, dimana jika inflasi tinggi otomotis biaya ekonomi juga semakin tinggi (baik dalam memperoleh hutang, dlsb). Hal ini akan memperberat neraca defisit AS yg sudah sangat besar dan akan sulit dalam menormalkan defisit tersebut.

Dan juga Dengan jumlah penebusan asset2 jelek baik berupa toxic asset maupun membeli hipotik (mortgage) yg jelek atau membeli surat hutang (bond) institusi keuangan yg ada dalam masalah, maka penebusan ini sangat terlalu besar. Dengan sistem keuangan AS yang masih dalam keadaan deregulasi terhadap industri jasa keuangannya dalam melakukan transaksi instrumen2 keuangan baik perbankan, asuransi, reasuransi, maupun hedge fund yang sebenarnya dalang krisis ini, maka mengucurkan belasan triliun USD "hanya" untuk menebus terdakwa adalah suatu sikap yang TIDAK EKONOMIS.

Kucuran USD yang sangat banyak itu dibiayai dengan pencetakan USD yang sangat banyak pula. Hal ini akan mengakibatkan USD akan lebih murah (dan relatif kurang berharga bagi pemegang USD). Dan dengan jumlah USD di pasar yang terlalu banyak akan mengakibatkan potensi inflasi tinggi (diharapkan tidak hiperinflasi).

Bila kita menilik sejarah ekonomi dunia. Maka kasus Amerika Serikat sekarang mirip dengan kasus ekonomi Jepang pada era 1990-an. Dimana saat itu Jepang juga mengalami housing bubble, harga tanah melonjak sangat tinggi dan harga2 melambung tinggi. Lalu bubble housing dan bubble pricing itu meletus. Harga2 jatuh dan terjadi krisis ekonomi yg hebat di Jepang. Kemudian Bank Jepang dan Pemerintah Jepang juga melakukan hal yg serupa yaitu BoJ membeli surat hutang Pemerintah Jepang dan menyuntik dana yg melimpah ke pasar dan menurunkan suku bunga mendekati 0 %. Namun hal itu sampai sekarang ternyata belum juga pulih. Dimana ekonomi Jepang masih mengalami stagflasi atau ekonomi yg mengambang, sehingga dengan terpaksa Bank of Japan masih tetap mempertahankan suku bunga yg sangat rendah sampai sekarang.

Dan kasus Amerikat Serikat saat ini juga mirip dengan hal tersebut. Pemerintah AS menurunkan suku bunga mendekati 0%, membeli T-Bond, Menyuntik triliunan USD ke pasar. Pemerintah AS menyuntikkan dana melimpah ke pasar dan membeli asset beracun pada pasar dan korporasi yang nyaris bangkrut.

Namun, akan diyakini bahwa amerika tidak sampai mengalami stagflasi berkepanjangan, namun yang terjadi adalah sebaliknya yaitu inflasi yang tinggi (yg kita harapkan tidak hiperinflasi).

Mengapa?

Karena bila kita melihat kebiasaan ekonomi Jepang. Masyarakat Jepang melakukan ekonomi dengan pola yg konservatif dengan tingkat tabungan yang masih relatif lebih tinggi dan tidak mempunyai jumlah hutang yang relatif besar pada neraca keuangan negara Jepang.

Namun bila kita melihat kebiasaan ekonomi masyarakat AS dimana tingkat tabungan sangat rendah, dan tingkat investasi dan hutang yang sebaliknya sangat tinggi. Hal ini akan mengakibatkan jumlah uang yang diperoleh tidaklah ditabung, tetapi ditransaksikan di pasar.

Hal ini akan mengakibatkan jumlah USD yg sangat banyak di pasar selain akan membut USD semakin murah dan pemerintah AS pada posisi yg terpojok antara memilih mencegah inflasi dengan menaikkan suku bunga (dimana jika inflasi tinggi tetapi tingkat suku bunga tidak mengimbangi, maka nilai uang akan habis oleh inflasi dimana Time Value of Money digerus oleh tingkat inflasi yg tinggi) atau memilih menjaga suku bunga tetap rendah agar defisit anggaran (APBN) AS dapat dicegah tidak semakin banyak (yaitu bila tingkat suku bunga dinaikkan , otomatis biaya Bond akan semakin tinggi dan dapat mengurangi tingkat pemasukan pemerintah sehingga sulit mengurangi defisit anggaran/APBN).

Dengan jumlah USD yg akan murah dan sangat banyak ini, serta beban anggaran yg tinggi ditambah potensi inflasi yg nyata akibat perilaku ekonomi AS yg tidak konservatif maka dampak kenaikan harga komoditas baik pangan (beras, jagung, tebu/gula, gandumg), minyak, gas, batubara, dll akan melambung dengan hebat.

Hal ini tak diayal pasti akan mematikan sejumlah negara berkembang yang tidak mempunyai stabilitas komoditas baik pangan maupun energi. Indonesia harus sangat bersiap-siap dengan hal ini.

Potensi inflasi tinggi pada komoditas sangat bisa terjadi akibat tindakan pemerintah AS dan The Fed yg tidak sabaran, tidak ekonomis, dan cenderung berpikir pendek tanpa berusaha memperbaiki sistem yang ada terlebih dahulu dan membiarkan sejumlah asset rontok dengan sendiri untuk memberi ruang nafas lega bagi perekonomian yang sudah berlari dengan terlalu cepat.

The Fed dan US government sebelum merealisasikan sejumlah rencana dari "pikiran pendek yg kurang tertata dengan baik ini" haruslah memberbaiki mesin perekonomian, tiang penyangga/perekonomian, memegang teguh sistem akuntansi moneter dan budjeter internasional, menata regulasi industri jasa keuangan yang bertransaksi instrumen keuangan dengan baik sebelum melancarkan sejumlah serangan2 sesaat yang akan membunuh diri sendiri pada akhirnya.

Peran UNI EROPA dan G-20 HARUS BISA memaksa kesadaran perlunya regulasi dan pemberlakuan sistem akuntansi moneter dan fiskal yang ketat serta pemberlakuan pengawasan yg ketat atas backed asset yg dijamin atas sekuritas yg diterbitkan agar nantinya tidak mengalami gagal bayar (default) lg pada nantinya yang diakibatkan kerakusan yg meraja lela dan SIALnya kerakusan itu dibenarkan oleh sistem AS [BOBROK] yang ada

Debt Management Indonesia

Saya sebenarnya lebih setuju pemerintah mempercepat pembuatan samurai bond (SUN bermata uang Yen yg dijual di pasar modal jepang) dan pemerintah Jepang menjamin akan ada investor yg tertarik dengan obligasi ini. Terimakasih buat rekomendasi dari Jepang. Dan juga dengan BSA juga salah satu opsi terbagus yaitu bisa dengan Jepang dan bisa dengan sesama negara ASEAN lainnya .

Kalau untuk penerbitan surat hutang di dalam negeri atau segmentasinya untuk dalam negeri saya tidak merekomendasikan. Karena sekarang sudah tercipta gejala crowding out, dimana persaingan di pasar obligasi sudah mulai ketat ditambah lagi dengan obligasi pemerintah yg ratingnya pasti bagus. Hal ini bisa membuat korporasi yg akan menerbitkan obligasinya (karena ketertarikan BI rate yg sudah turun sehingga akan mengalihkan investor beralih dari deposito ke obligasi yg lebih menjanjikan secara cost dan returnya) akan mengalami kesulitan permodalan di tengah gejolak krisis ekonomi sekarang ini.

Debt management di segala sektor ekonomi baik pemerintah, perusahaan, dan perbankan harus benar2 lebih perasa dalam menentukan arah kebijakan dan displin manajemen dan pencarian hutangnya.

Variabel Stabilitas Rupiah

Stabilitas rupiah sangat ditentukan oleh hal-hal berikut ini :

1. PEMILU yang berjalan aman. Karena politik yang rusuh dan tidak bersatu akan membuat orang-orang lebih suka memegang dolar daripada rupiah.

2. Keamanan dalam negeri dari terorisme, kekacauan, dan separatisme.

3. Kepastian dan konsistensi kebijakan ekonomi oleh Bank Indonesia dan Pemerintah.

4. Bantuan fiskal dan insentif lainnya yang akan menolong perusahaan yang sehat dalam mengurangi ongkos/biaya usahanya melewati krisis ekonomi serta mengurangi PHK.

5. Akuntabilitas dan transparansi laporan keuangan perusahaan dan pemerintah yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga mengurangi korupsi dan penggelembungan anggaran.

Cara Pulihkan Ekonomi China

Ekonomi china memang tertekan banyak di krisis ekonomi global saat ini. Tetapi hal ini tidak menyebabkan ekonomi china secara makroekonomi mengalami gejolak moneter yg besar dikarenakan ekonomi moneter china dipandang dari cadangan devisa (reserve) dan currency china relatif sangat besar. Ditambah china memiliki BUMN dengan skala industri multinasional yang sangat besar dilihat dari sisi modal dan cash flow.

Tetapi krisis ekonomi china sangat mengoyak ketahanan masyarakat china yang berpendapatan rendah yang pada umumnya bekerja secara industri rumahan dan sebagai buruh2 pabrik di kota-kota industri china. Sederhananya, hal ini akan mengakibatkan adanya kesenjangan (gap) ekonomi dan sosial di dalam internal masyarakat china. Dan juga hal ini dapat menjadi gejolak sosial tersendiri bagi masyarakat pedesaan yang mengalami lonjakan penduduk diakibatkan pulangnya sejumlah besar masyarakat buruh perkotaan ke pedesaan.

Hal ini dapat dicegah oleh pemerintah china dengan meningkatkan kapasitas pembelian pemerintah china terhadap barang-barang produksi masyarakat pedesaan seperti makanan, komoditas pertanian, perikanan, dan perkebunan. Serta memberikan kemudahan kredit dan insentif fiskal bagi masyarakat pedesaan.

Untuk jangka panjang saya yakin RRT melampaui Jepang asalkan RRT meniru Jepang dalam menciptakan kesejahteraan bagi warganya. Yaitu dengan cara mereka memperhatikan kesejahteraan dan hak individu daripada setiap warganya sendiri dalam kehidupan rakyatnya masing-masing. Sehingga akan menimbulkan kekuartan ekonomi yang kuat tidak hanya pada sisi ekspor tetapi juga konsumsi masyarakat RRT yang sangat banyak dan sangat potensial. Karena dalam sistem ekonomi Buyer >>> Supplier.

Karena Buyer >>> Supplier

Union Workers as Inefficiency in American Economic

Union workers halangan terbesar reformasi dan efisiensi korporasi di Amerika

Kalau di amerika itu kerjaan pegawai yg sudah terikat dengan serikat pekerja sangat sulit diatasi oleh manajemen perusahaan. Ibarat di pabrik perakitan mobil, ada spesialisasi untuk pasang ban, spesialisasi utk pasang mur dan suku cadang, ada spesialisasi untuk tes drive, dll. Setiap pegawai yg job desknya sudah ada kalau manajemen menyuruhnya untuk kerjain sesuatu yg bukan job desk dia, pegawai tersebut berhak banding ke union workers (busettt manja amat mas) dan union itu akan berembuk dan bisa sampai atasan tersebut dipindahkan dan bahkan dipecat.

Dan jg kalau di rumah sakit jg spt itu, pegawai di lantai 4 tidak boleh disuruh untuk kerja di lantai 2 yg bukan job desknya. Kalau dia tetap dipaksa manajemen utk melakukan hal tersebut, manajer tersebut bisa dipecat atau digantikan segera.

Padahal jika melihat kantor dan pabrik yg pekerjanya tidak terikat pada union, setiap pegawai saling membantu bahu membahu dalam mengembangkan pekerjaan masing2. Dan tidak manja serta ngambek spt contoh diatas. Hal ini yg membuat operasional perusahan tersebut benar2 efisien sehingga dapat mengalahkan pesaingnya, karena pegawai dan tenaga kerjanya bersedia menciptakan efisiensi tersebut dengan bersedia mengerjakan beberapa hal sekaligus.

Kalau memang bailout bagi korporasi di AS dilakukan, diharapkan tidak diberikan bagi perusahan dan pabrik yg terikat pada union workers atau dikehendaki mereka meninggalkan unionnya dan dapat mengerjakan banyak hal di perusahaan tanpa perlu lapor pada union mereka.

Union benar2 menghambat reformasi, perkembangan dan efisiensi korporasi di amerika terutama di tengah krisis ini.

Efek Berlipat Ganda Ekonomi Indonesia dalam Produk Dalam Negeri

Hanya ada satu langkah dan syarat bagi kita untuk mempertahankan perekonomian kita dan negara Indonesia

Melindungi Produsen (Industri dan Usaha) lokal dan meningkatkan kualitas serta keterjangkauan harga Produk Lokal

Setiap pengeluaran kita harus diprioritaskan bagi barang-barang Indonesia yang disediakan oleh pekerjaan-pekerjaan lokal oleh orang Indonesia. Pada akhirnya pengeluaran yang kita lakukan terhadap ekonomi lokal kita akan diperoleh oleh mereka. Lalu mereka spend lagi di org2 lokal warga Indonesia di negara ini, berulang lagi dan lagi dii negeri ini.

Itulah efek multiplier (multiplier effects) dalam syarat pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Sudah lama tidak ada yang memperhatikan akan hal ini. Sudah waktunya kita mempertahankan pekerjaan setiap warga negara Indonesia, untuk Tuhan dan juga bangsa ini, kita harus menggunakan dan memprioritaskan produk lokal dalam negeri. Bukan produk asing walaupun murah.

Pada ujungnya kita akan dapat mengurangi PHK di dalam negeri dan meningkatkan kesejahteraan negara ini berkali-kali lipat.

Menilik Surat Krugman untuk Obama

Menilik surat krugman buat obama (http://www.rollingstone.com/politics/story/25456948/what_obama_must_do), Kalau di Indonesia gw lebih menekankan tentang sangat pentingnya memprioritaskan produk lokal dalam negeri sendiri.

Secara singkat Paul Crugman menceritakan :
1. Kesukesan Paul Volcker selama krisis tahun 1980 dimana Paul Volcker berhasil mengendarai krisis keuangan amerika serikat dimana dia menaikkan suku bunga untuk mematikan semua toxic2 di keuangan tetapi akibatnya krisis sangat terasa sekali dan semua org berteriak. Lalu setelah semua toxic2 tersebut hilang lalu ia menurunkan suku bunga, mendorong penuh pinjaman ke masyarakat melalui bank, menggenjot perekonomian dengan likuiditas selanjutnya perekonomian langsung pulih dan tumbuh dengan cepat.

2. Kebaikan dan keburukan yang dilakukan oleh Frank Delano Roosevelt (FDR) selama great depressiion dimana 25% orang amerika kehilangan pekerjaan. FDR memaksa bank2 pemerintah (saat itu 30% bank di us adalah BUMN) unmtuk meminjamkan uang ke orang2 dan perusahaan dan usaha berjalan. FDR melakukan bailout korporasi US spt Bush dan Obama skrg melalui TARP. Lalu ia banyak membangun proyek2 besar selama 3 tahun dan cukup berhasil mengurangi jumlah pengangguran di US. Tetapi krisisnya sendiri berlangsung cukup lama yaitu dari 1932-1937 selama 5 tahun. Dia menceritakan inovasi yg dilakukan oleh FDR yaitu FDR yang menemukan sistim asuransi yg dipakai oleh US citizen sampai detik ini.

3. Dia menyetujui kebijakan obama tentang perlindungan kesehatan untuk semua warga AS. Asuransi kesehatan yg di us sekarang ini terikat pada pekerjaan, jadi ketika seorang kehilangan pekerjaan ia dan keluarganya otomatis kehilangan perlindungan asuransi. Dia mewaspadai hal ini dengan mendukung kebijakan obama ttg asuransi utk semua.

4. Dia menyetujui kebijakan obama ut menghentikan pengeluaran tidak perlu kpd perang. Dan dia juga setuju dgn membangun infrastruktur dan segala macam konstruksi besar2an.

5. Dia lebih setuju kebijakan tentang green environment dan reduce gas emission itu dilakukan thn 2010 untuk memfokuskan tahun 2009 sebagai tahun utk pemulihan ekonomi.

6. Dia menginginkan adanya penelusuran dan penyelidikan tentang apa yg sudah dikerjakan amerika selama era bush spt penyerangan ke afganistan dan irak tanpa hasil spt menemukan senjata pemusnah massal atau teroris. Dia menginginkan amerika harus menelusuri dan memperjelas sejarahnya agar org2 amerika dpt belajar dari sejarah dan tidak mengulangi sejarahnya dulu.

BI Rate jangan terlalu tinggi

Sebenarnya kalau BI rate terlalu tinggi itu tidak bagus juga loh dalam menarik minat investor luar negeri dalam invest di Indonesia.

Karena mereka melihat potensi keamanan terhadap investasi mereka juga di Indonesia. Kalau suku bunga tinggi otomatis sektor apapun dari industri, manufaktur, UMKM, KPR, KTA, bahkan kredit konsumsi pun akan semakin sulit dan macet. Ini mendatangkan country risk juga bagi keamanan investasi oleh Foreign Investment di Indonesia.

Jadi yg paling penting bukan SBI setinggi-tingginya. Karena itu bukan kunci dalam menarik minat investor luar negeri. SBI setinggi-tingginya hanya menarik minat spekulan rupiah yg beli SBI cuma sebulan dua bulan, habis itu keluar.

Karena perbedaan central bank rate yg tinggi dapat memicu bahaya spekulasi arbitrase internasional dimana org beli kredit dari interest rate rendah utk ditanamkan di country yg interest rate tinggi.

Itu mendatangkan bahaya tersendiri thdp potensi short term foreign investmen. Bukan untuk kestabilan investasi luar negeri atau long term foreign investmen. Atau speculative foreign investment bubble.

Yg paling penting sebenarnya keseimbangan atau istilah klasiknya kestabilan sistem ekonomi, dimana sektor moneter, fiskal, dan sektor riilnya berjalan seimbang dan saling menopang.

Kestabilan pertumbuhan ekonomi tiap-tiap sektor tepatnya yang dibutuhkan dalam resesi ekonomi Indonesia ini.

Cara pulihkan ekonomi Amerika Serikat

Krisis ekonomi AS awalnya adalah dari kredit macet di sektor perumahan (subprime mortgage) jadi krisis ini juga harus berakhir dengan penyelesaian di subprime mortgage juga

Bailout yang sekarang totalnya sudah 7 triliun dolar kan masih sebatas bailout ke sektor keuangan saja padahal penyelesaian krisis ekonomi as tidak sesimple itu penyelesaiannya, harus dari :

1. suntikan dana bagi sektor finansial yg mengalami NPL dan penyusutan asset surat berharga bidang subprime mortgage sangat tinggi, dan penebusan kredit2 macet yang ada di institusi keuangan.

2. menebus rumah2 yang tidak laku yang dimiliki oleh para pemilik rumah yg terpaksa harus menjual rumahnya dgn harga sangat murah krn tidak laku serta pendapatannya juga terpaksa tergerus krn harus bayar cicilan pembelian yang mahal padahal harga jualnya sangat murah sekali. Dan jumlah pemilik rumah itu sangat banyak sekali.

3. karena banyak kerugian bagi sektor rumah tangga dlm harga rumah dan juga semakin miskin, maka belanja rumah tangga jg sudah pasti menurun. utk sikapi hal ini us juga harus naikkan gaji karyawan sektor menengah ke bawah us nya sendiri.

4. terus yang terakhir adalah membuka keran kredit murah untuk sektor rumah tangga dan sektor usaha menengah ke bawah bagi orang2 usnya sendiri.

5. lalu regulasi yg ketat thd sistem kredit perumahan, dan aturan tegas terhadap bank investasi tidak boleh membeli aset bank perkreditan/bank perumahan, serta regulasi yang ketat thdp surat berharga kredit perumahan as dan derivasinya.

Dan semua ini butuh dana sampai 10 triliun USD. tetapi US sendiri tidak mempunyai uang yang cukup utk itu. Karena itu maka us akan mengalami deflasi hebat, karena harga asset2nya sendiri akan semakin murah atau menyusut. dan ciri2 deflasi yang paling utama adalah apresiasi USD. Jadi selama AS mengalami deflasi, selama itu juga USD akan menguat.

Tetapi sekarang ini yang menjadi kesalahan AS adalah terlalu membanjiri pasar keuangannya sendiri dengan stimulus bailout 700 billion USD, pembelian junk bond oleh The Fed, pembelian Treasury Bond oleh The Fed dan stimulus ekonomi as 787 billion USD. Hal yang sangat boros karena ditengah-tengah hutang AS yang sudah mencapai lebih dari 1 trillion USD, akan mengakibatkan USD mengalami depresiasi dengan mata uang lainnya. Dan USD akan depresiasi hanya sendirian saja karena Uni Eropa dengan Euronya telah melakukan tindakan yang tepat dengan tidak melancarkan stimulus yang boros dan tidak tepat guna pada pertemuan G-20 di London yang mencegah depresiasi Euro secara dalam.

Tanggapan Atas Usul Haircut

NPL dan Permodalan Jadi Problem Utama Bank BUMN Butuh Revisi Undang-undang

Rabu, 31 Desember 2008 | 01:26 WIB
Jakarta, Kompas - Pada pengujung tahun 2008, sejumlah persoalan yang mendera perbankan mulai agak mereda, seperti kondisi likuiditas dan suku bunga tinggi. Namun, beberapa persoalan masih akan menghantui dan bahkan mencapai puncaknya pada tahun depan, yakni kredit bermasalah dan permodalan.

Ketua Umum Perhimpunan Bank Umum Milik Negara Agus Martowardojo, Selasa (30/12) di Jakarta, menjelaskan, secara umum kondisi perbankan pada pengujung 2008 cukup baik.

Beberapa persoalan yang cukup mengganggu dua tiga bulan lalu kini perlahan-lahan mereda, antara lain kondisi likuiditas, nilai tukar, dan suku bunga.

Kondisi likuiditas rupiah, kata Agus, sudah lebih baik meski belum normal betul. Itu tecermin dari suku bunga pasar uang antarbank (PUAB) yang 10-11 persen per tahun.

Pemerintah dan Bank Indonesia telah melakukan serangkaian kebijakan untuk melonggarkan likuiditas. Pemerintah, misalnya, mencairkan anggarannya sekitar Rp 140 triliun selama November- Desember 2008.

Likuiditas ketat yang terjadi berlarut-larut sangat membahayakan industri perbankan karena bank tidak mudah lagi mendapatkan dana, baik untuk kredit maupun memenuhi penarikan oleh nasabah. Kondisi ini bisa berujung pada hilangnya kepercayaan nasabah kepada bank.

Nilai tukar rupiah yang sempat bercokol di level Rp 12.000-an per dollar AS kini sudah kembali ke kisaran rata-rata Rp 10.000-an per dollar AS.

Depresiasi kurs yang terlalu dalam bisa membahayakan bank, terutama yang memiliki banyak debitor yang juga sebagai importir. Akibat depresiasi kurs, debitor-debitor tersebut terancam bangkrut sehingga kreditnya ke bank menjadi macet.

Kondisi perbankan, ujar Agus, juga tertolong oleh mulai turunnya suku bunga acuan atau BI Rate. Pada awal Desember 2008, BI menurunkan BI Rate 25 basis poin menjadi 9,25 persen.

Penurunan BI Rate pada gilirannya akan mendorong penurunan suku bunga dana dan suku bunga kredit. Adapun persoalan kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) belum begitu terasa pada 2008 meski angka rasionya mulai merangkak naik pada Oktober 2008, sebesar 3,34 persen. Seiring dengan makin banyaknya kinerja perusahaan yang terganggu akibat krisis global, persoalan NPL akan semakin berat pada tahun 2009.

”Masalah NPL dan permodalan harus diwaspadai pada tahun 2009. Perbankan harus makin prudent dan memperkokoh manajemen risikonya,” kata Agus.

Restrukturisasi NPL

Jika NPL meningkat, bank harus melakukan pencadangan yang dananya diambil dari modal. Bagi bank yang modalnya pas- pasan, rasio kecukupan modalnya bisa turun di bawah 8 persen, yang merupakan angka minimum sesuai ketentuan BI.

Salah satu upaya untuk meredam dampak peningkatan NPL adalah memperbesar permodalan. Untuk mengantisipasi beratnya ancaman NPL pada 2009, Agus mengharapkan BI melonggarkan sejumlah ketentuan, seperti penilaian kualitas aktiva, penundaan penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 50 dan 55, dan perhitungan risiko operasional.

Agus juga mengharapkan agar pemerintah dan DPR segera mengamandemen UU No 49/1960 tentang panitia urusan piutang negara yang interpretasinya melarang bank BUMN melakukan pemotongan utang pokok (haircut).

Amandemen diperlukan karena Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2006 soal tata cara pengurusan piutang negara dianggap tidak terlalu kuat sehingga dikhawatirkan bisa menimbulkan masalah hukum pada kemudian hari. PP No 33/2006 memperbolehkan bank BUMN melakukan haircut dan penjualan dengan diskon atas kredit macet.

Menurut Agus, penanganan dan restrukturisasi NPL bisa lebih lancar dan cepat jika bank BUMN boleh melakukan haircut. Selain itu, Agus juga mengusulkan agar penyeragaman kualitas aktiva tidak diberlakukan untuk NPL yang disebabkan oleh transaksi derivatif.

Akibat depresiasi rupiah yang tajam, banyak investor yang rugi saat melakukan transaksi derivatif. Karena dana yang dipakai untuk transaksi derivatif ada yang berasal dari pinjaman, nasabah itu dikategorikan NPL jika tak mampu mengembalikan utangnya.

Berdasarkan aturan penyeragaman kualitas aktiva, jika satu debitor macet di satu bank, pinjamannya di bank lain juga dianggap macet. Deputi Gubernur BI Muliaman Hadad mengatakan, dalam praktiknya, akan sulit memastikan apakah NPL terjadi akibat transaksi derivatif atau bukan. (FAJ/DAY)


Haircut ini seperti ini...

Bank Mandiri pinjamin Pak Ardi Rp. 100 juta. Pak Ardi itu bergerak di bidang penjualan barang elektronik. Mula-mula pinjaman Bank Mandiri itu PL (performing loan) lalu ke depannya karena rupiah naik dan bunga pinjaman juga naik serta penjualan turun PL itu pelan-pelan berubah menjadi NPL (non performing loan).

Dan Bank Mandiri berharap bisa menjual piutangnya ke Pak Ardi ini dengan harga diskon (haircut) ke pihak lain sebesar Rp. 90 juta.

Tetapi gw berpikir lagi nih
Memang sih ini sangat menguntungkan bagi bank itu sendiri.

Tetapi apa tidak melihat kalau ini sebenarnya awal krisis yang terjadi di Amerika Serikat dengan subprime mortgagenya. Bank-bank itu meminjamkan duit kepada warga-warga AS yang ingin memiliki rumah. Contohnya juga seperti ini, Washington Mutual Fund meminjamkan $ 200 kepada Yenny, $ 500 kepada Felisia , dan $300 kepada Adam yang ingin membeli rumah. Mula-mula semua kredit berbentuk PL (performing loan), lalu karena beberapa hal kredit Felisia dan Adam macet. Lalu Washington Mutual Fund mempaketkan kredit-kredit di perusahaannya dimasukkan kedalam berbagai rating dan kriteria.

PL Yenny dirating A dan dijual pada harga tetap $200,

Potential NPL Adam dirating B dan dijual dengan haircut pada harga $ 250

NPL Felisia dirating C dan dijual dengan haircut pada harga $ 300.


Dan kemudian kredit-kredit yang terdiri atas kredit baik dan busuk ini dijual di pasar. Kemudian kredit ini juga dijamin dengan insurance. Insurance atas kredit ini juga dijual lagi. Dan bla bla bla
Kemudian pinjaman Yenny, Felisia, dan Adam tiba2 semua jadi NPL. Dan terakumulasi ke surat-surat berharga yang menjaminnya. Ke surat berharga insurancenya juga. Dan tiba-tiba semuanya macet. Lalu pmerintah US berinisiatif untuk menampung junk-junk bond tersebut dan dibeli dengan haircut juga alias pemerintah saja yang menampung kerugian swastanya.

Yah, kembali melihat haircut ini saya jadi semakin riskan dengan hasilnya. Apalagi Indonesia belum mempunyai lembaga rating internal perusahaan dan nasional atas kredit-kredit perbankan yang diakui dunia. Ditambah dengan AS saja bisa boblong atas sistem rating berbagai junk bond (sampah) yang dianggap emas.

Anonymous Letter

The problem as far as these analysts were (are) concerned is that the raft of government guarantees being bandied about the world are generally meaningless.

They pointed out - and worryingly there was no dispute, they agreed unanimously - that the potential depth of banking problems in some countries was such that previous safe havens are seen as no such thing anymore. Switzerland was highlighted in the conversation, although they stressed it was not the only problem nation.


The analysts, who do not wish to be identified, argued that if Switzerland had to bail out its banks the cost would be in excess of 40 times the country's GDP - in other words impossible. Now I argued back that such emergencies are the very reason why the IMF exists and they agreed, but equally they shot back that they had no interest in holding depreciating Swiss assets while the IMF debated back and forth before (probably) helping with the bail out.

I have highlighted this issue for two reasons. Firstly, I am in a very bad mood after my laptop was stolen last week so I want to be grumpy about something. And secondly, in a week when investors and currency traders rushed for "safe havens" the Swiss franc (traditionally the safest of safe havens) went down. I can't remember the Swissy ever suffering during a flight to safety so all of a sudden I am a little nervous... .

Sumber : anonymous

Sejarah Ekonomi Moneter Internasional

Untuk pola ekonomi moneter global gw kurang setuju dengan bretton woods maupun smithsonian agreement. Gw lebih setuju dengan idenya Keynes yang memprosalkan tentang International Clearing Union pada saat konferensi bretton woods. Karena dalam bretton woods, sangat disetujui dukungan mutlak utk negara adikuasa tanpa memperhatikan prinsip adil berimbang bagi negara-negara berkembang.

Dengan 2 proposal yg diajukan oleh Amerika Serikat ke Bretton Woods yg akhirnya disahkan yaitu proposal IMF dan proposal Bank Dunia yg melegalkan keuntungan sebesar-besarnya untuk perdagangan negara besar tanpa memperhatikan aspek berimbang utk bantuan perdagangan bagi negara berkembang.

Proposal tersebut mengalahkan proposal Keynes tentang International Clearing Union yang memberlakukan satu mata uang internasional sebagai tolak ukur terhadap semua mata uang dunia. Mata uang bancor yang dipakai sebagai kurs perbandingan tetap (fixed rate) terhadap berbagai harga komoditas dan berbagai kurs dunia.Tetapi hal ini kurang disukai oleh negara2 adidaya yg selalu berupaya mengejar keuntungan sebesar-besarnya melalui volatilitas harga2 komoditas dan dominasi AS di pasar internasional dengan US Dolarnya.

Untuk hal mata uang internasional sebaiknya peg ke komoditas atau menggunakan paper (notes) based controlling, dalam sejarahnya USD sebagai mata uang internasional sejak dijadikan sebagai common curreny yang di peg ke emas, langsung mendapat heavy burden bagi AS sendiri. Contohnya seperti ini, mata uang AS dikumpulkan oleh semua negara asing. Dan sebagai patokan $30 itu dipeg ke 1 ounce emas. Dan untuk menyamakan prinsip berimbang sistem gold-usd currency tersebut, AS harus mencari emas sebanyak-banyaknya untuk menyeimbangkan USD dia yang sudah diterbitkan di seluruh dunia. Akibatnya, US segera mencabut sistem tersebut. Dan apa hasil yg terjadi ? Dalam sepuluh tahun harga emas langsung melejit sampai 30x lipat

Menurut saya, negara apapun yg currencynya sbg common currency akan menadapatkan hal spt itu juga. Ini sebabnya kenapa China selalu didesak-desak untuk tidak peg Yuannya pada USD, karena jadi beban yg berat juga utk USD. Sehingga tahun lalu China menerapkan sistem floating terbatas utk Yuannya, tidak berdasar atas USD lagi. Tapi malah akibatnya Yuan kursnya jadi melemah, sehingga ekspor barangnya ke US semakin banyak karena murah dan makin membanjiri pasar AS. Hal ini diakibatkan beban USD berkurang karena Yuan sudah mengambang terbatas sehingga kurs AS menguat atas Yuan.

Tetapi Currency jangan kembali ke emas/perak, dan jangan pernah peg currency ke komoditas. Komoditas itu harganya fluktuatif, sangat tergantung demand dan supply. Akibatnya akan sangat boros untuk ekonomi yg menampung sistem tersebut. Currency yg mirip pergerakannya dengan komoditas yaitu Canada dan Australia yang merupakan eksportir komoditas.

Masalah utama untuk adanya mata uang internasional selain USD yaitu negara yang paling kuat ekonominya itu dan paling kuat negaranya secara keamanan utk ekonomi itu tetap amerika serikat, dan hal itu yg menjadi andalan USD sbg common currency yaitu kekuatan keamanan dan kestabilan politik serta kestabilan sosial ekonomi.

Blogger templates made by AllBlogTools.com